Ad
Ad
Ad
Entertainment

Kejanggalan Dibalik Hilangnya Lukisan Kartini 1964

Pinterest LinkedIn Tumblr

MediaBerita.id – Atas misteri kehilangan lukisan Raden Ajeng Kartini pada Hari itu Rabu, 25 Maret 1964. Ia bertamu ke adres Raden Cantik Bupati Arya Kardinah Reksanegara di Salatiga. Biarpun, Sitisoemandari tidak berikan berita atas konsep kunjungannya, sang tuan rumah senantiasa suka menyambut pengunjung asal Jakarta ini.

“ Kita tiba ke rumah dia serta aku memberitahukan diri selaku reporter Suluh Indonesia,” melamun Sitisoemandari.“ Durasi itu aku sedang wartawati dari suratkabar itu.”

Pertembungan memiliki itu dikatakan dalam pengantar bukunya yang berjudul Kartini Suatu Memoar. Novel monumental itu diterbitkan oleh Gunung Agung di Jakarta pada 1977. Inilah novel memoar awal mengenai Kartini, yang ditulis dengan kaidah jurnalistik oleh wanita Indonesia. Tebalnya, lebih dari 400 laman. Apalagi, novel ini menginspirasi Sjumandjaja buat film Kartini yang luncurkan pada 1982.

“ Dia berkenan menyambut kita dengan wajah yang memantulkan kegemaran batin,” catat Sitisoemandari,“ serta semua perilakunya kepada kita menunjukkan entusiasme.” Kelihatannya, hari itu ia sedemikian itu besar hati serta senang selaku perempuan—sekaligus wartawan—karena dapat berjumpa serta bercakap- cakap dengan Kardinah hingga puas.“ Yang amat aku muliakan yakni kalau dia berkenan pula membagikan berkah berkat buat profesi yang aku cita- citakan”, Zonamedia.id.

Sejatinya, ekspedisi Sitisoemandari ke kota garnisun ini menjajaki ekspedisi biro Soeroto, si suami. Dikala itu suaminya berprofesi selaku Kepala Inspeksi Asal usul serta Ilmu Alam di Unit Pembelajaran serta Kultur. Tidak hanya itu Soeroto pula menemukan amanat selaku Panitia Museum Sejarah Tugu Nasional.

kejanggalan dibalik hilangnya lukisan kartini 1964 2

Cetak biru pembangunan tugu ini dipelopori pada 1950- an. Konstruksinya berasal pada 1961, yang nanti sebab gempar 1965, terkini beres pada 1975.

Tujuan penting kehadiran Sitisoemandari merupakan buat mewawancarai Kardinah menghadap hari kelahiran Kartini. Pada era itu hari kelahiran Kartini belum dirayakan dengan cara nasional. Hari Kartini sah diperingati dengan cara nasional sehabis Bung Karno menghasilkan Ketetapan Kepala negara Republik Indonesia sebagian pekan setelah itu, ialah pada 2 Mei 1964.

Kala akan berpamitan, Kardinah memberinya hadiah. Sebagian lembar Lukisan Kartini, coretan aluran keluarga Tjondronegaran selaku kakek moyang Bupati Raden Abang Bupati Arya Sasraningrat, serta Sketsa silsilah Sasraningrat.

Tetapi, terdapat alang Kardinah buat orang Indonesia yang dititipkan pada Soeroso berlaku seperti badan atau delegasi Sekretaris I Badan Museum Asal usul Monumen Nasional. Alang itu berbentuk 3 lukisan—masing- masing buatan Kartini, Roekmini, serta Kardinah. Ketiga buatan seni memiliki itu dihadiahkan Kardinah buat Museum Asal usul Monumen Nasional.

Pembangunan pondasi serta bilik museum di ruang bawah beres pada akhir 1962. Setelah itu diteruskan dengan pembangunan di dalam ruang bawah Tugu Nasional.

Sitisoemandari pula mengatakan dalam bukunya kepala karangan ketiga Lukisan itu. Awal, Lukisan cat minyak bertajuk“ Halaman Bunga Leli” buatan Kartini. Kedua, Lukisan pensil bertajuk“ Tepi laut Japara” buatan Roekmini. Ketiga, Lukisan arang“ 3 Akhir Kucing” buatan Kardinah. Bagi penuturan yang dicatat Sitisoemandari,“ Lukisan itu terbuat kala mereka sedang di Japara, saat sebelum Kardinah berbaur pada 1902.

Sesampainya di Jakarta, Soeroso mengantarkan ketiga Lukisan itu pada Unit Pembelajaran Kultur di Jalur Cilacap Nomor. 1, Jakarta Pusat. Kantor berarsitektur Art Deco itu menaiki gedung sisa Departement van Onderwijs en Eredienst—kementerian pembelajaran serta hal agama era kolonial. Saat ini, The Hermitage Penginapan.

Tetapi, terdapat alang Kardinah buat orang Indonesia yang dititipkan pada Soeroso berlaku seperti badan atau delegasi Sekretaris I Badan Museum Asal usul Monumen Nasional. Alang itu berbentuk 3 lukisan—masing- masing buatan Kartini, Roekmini, serta Kardinah. Ketiga buatan seni memiliki itu dihadiahkan Kardinah buat Museum Asal usul Monumen Nasional.

Pembangunan pondasi serta bilik museum di ruang bawah beres pada akhir 1962. Setelah itu diteruskan dengan pembangunan di dalam ruang bawah Tugu Nasional.

Sitisoemandari pula mengatakan dalam bukunya kepala karangan ketiga Lukisan itu. Awal, Lukisan cat minyak bertajuk“ Halaman Bunga Leli” buatan Kartini. Kedua, Lukisan pensil bertajuk“ Tepi laut Japara” buatan Roekmini. Ketiga, Lukisan arang“ 3 Akhir Kucing” buatan Kardinah. Bagi penuturan yang dicatat Sitisoemandari,“ Lukisan itu terbuat kala mereka sedang di Japara, saat sebelum Kardinah berbaur pada 1902, kutip Media-Indonesia.com.

Lukisan arang bertajuk 3 Akhir Kucing buatan Kardinah, dekat 1900. Lukisan ini diserahkan oleh Soeroto

kejanggalan dibalik hilangnya lukisan kartini 1964 3

Berita Media Online, pada Prijono, Menteri Pembelajaran serta Kultur pada 9 Mei 1964. Mungkin difoto oleh Sitisoemandari. Rumah Kartini

Lukisan arang bertajuk 3 Akhir Kucing buatan Kardinah, dekat 1900. Lukisan ini diserahkan oleh Soeroto pada Prijono, Menteri Pembelajaran serta Kultur pada 9 Mei 1964. Mungkin difoto oleh Sitisoemandari.

Sesampainya di Jakarta, Soeroso mengantarkan ketiga Lukisan itu pada Unit Pembelajaran Kultur di Jalur Cilacap Nomor. 1, Jakarta Pusat. Kantor berarsitektur Art Deco itu menaiki gedung sisa Departement van Onderwijs en Eredienst—kementerian pembelajaran serta hal agama era kolonial. Saat ini, The Hermitage Penginapan.

Ia mendapati Guru besar Prijono( 1905- 1969) berlaku seperti Menteri Pembelajaran serta Kultur, sekalian Pimpinan Setiap hari Badan Museum Asal usul Monumen Nasional. Akta penyerahan itu ditandatangani pada Sabtu, 9 Mei 1964. Sedangkan itu Sitisoemandari memfoto satu per satu Lukisan itu saat sebelum diserahkan dengan cara sah pada negeri. Maksudnya, sepanjang ini posisi terakhir Lukisan itu terletak di Unit Pembelajaran serta Kultur.

Hingga di mari kewajiban Sitisoemandari serta Soeroto buat mengantarkan ketiga Lukisan itu bisa dikira berakhir. Mandat Kardinah pada keduanya sudah beres.

kejanggalan dibalik hilangnya lukisan kartini 1964 4

Raden Ajeng Siti Soemandari binti Sastrohoetomo lahir di Yogyakarta, 9 Oktober 1908. Ia mempelajari jurnalistik semenjak umur 27 tahun. Tema adat serta kesusastraan sering jadi materi tulisannya, ternyata politik. Sedangkan itu Raden Soeroto bin Mertowinoto lahir di Jepara, 22 September 1912. Ia merupakan alumnus Hollands Inlandse Kweekschool” Goenoeng Ekstrak” di Ceduk. Semenjak dini 1930- an Soeroto membuka karir selaku guru, sambil berasosiasi selaku badan publikasi pesan berita patriot Bangoen di Surakarta.

Kesenangan serta intensitas dalam aspek jurnalistik sudah mempertemukan mereka di pesan berita Bangoen. Seri postingan keduanya mengenai ordonansi pernikahan serta pembebasan wanita sempat membuat gempar organisasi- organisasi Islam pada 1937. Kesimpulannya, Sitisoemandari serta Soeroto menikah di Cilacap pada 1938.

Pergolakan politik pada 1965 membuat suasana kehidupan jungkir- balik.“ Sehabis insiden G- 30- S,” begitu Sitisoemandari menulis,“ Badan Museum Asal usul Monumen Nasional dibubarkan serta profesinya dihentikan.”

Harold A. Crouch dalam bukunya The Army and Politics in Indonesia yang diterbitkan Equinox Publishing pada 2007, mengatakan penculikan kepada Prijono serta sebagian menteri serta administratur negeri yang lain. Mahasiswa KAPPI( Kesatuan Kelakuan Anak muda Siswa Indonesia) serta Pasukan Arief Belas kasih Juri bertanya dengan 2 pejabat Angkatan Bumi. Sehabis itu para mahasiswa beranjak menculik sebagian menteri pada 16 Maret 1966. Salah satunya, Prijono.

“ Menteri- menteri yang‘ dibekuk’ itu dibawa ke markas Kostrad,” catat Crouch. Ia berupaya menghubungkannya dengan insiden lain, kemudian beranggapan,“ Kelihatannya para mahasiswa berperan leluasa atas bimbingan arahan paling tinggi angkatan bersenjata.”

kejanggalan dibalik hilangnya lukisan kartini 1964 5

2 hari sehabis penahanan, Prijono menyambut pesan penangkapan sah dari penguasa. Dari dikala itu profesi serta penghidupannya selaku loyalis Sukarno bisa dikatakan selesai telah.

Prijono memanglah orang kiri, namun bukan PKI. Ia ialah pendukung Partai Murba, yang celakanya sering dihubung- hubungkan dengan PKI. Selaku seseorang pendukung asli Sukarno, prestasinya pantas dipuji kala menemukan karunia“ Apresiasi Perdamaian Global Lenin buat Usaha Memperkuat Perdamaian Antarmanusia” pada 1954. Saat sebelum berkarier selaku menteri, ia sempat berprofesi selaku Pimpinan Federasi Pertemanan Indonesia- Cina.

Kala menempuh era 3 tahun penangkapan, Prijono meninggal, dan ia merupakan kejadian seseorang loyalis Sukarno.

kejanggalan dibalik hilangnya lukisan kartini 1964 6

Kemudian gimana kodrat Sitisoemandari serta Soeroto?

Berita Online Harian, Ananda Myrtha Soeroto, yang lahir dari kandungan Sitisoemandari pada 1947, mengatakan suasana darurat keluarga dalam halaman blognya yang didedikasikan buat Soemandari- Soeroto.

Myrtha mengatakan kalau dini Sistem Terkini ialah masa- masa susah yang wajib dilewati keluarganya. Apalagi, 2 suadaranya yang sedang berkuliah di Fakultas Medis Universitas Indonesia wajib menyudahi sepanjang 2 tahun.“ Kejadian Nasional G- 30- S berakibat sungguh- sungguh pada ekonomi keluarga,” tulisnya.“ Soeroto kehabisan profesi selaku karyawan negara.”

Sepanjang ini tidak terdapat kejelasan kenapa Soeroto diberhentikan selaku karyawan departemen. Myrtha mengatakan kalau kedua orang tuanya bukan partisan PKI, melainkan badan PNI arahan Ali Sastroamidjojo. Bertepatan rumah Soeroto serta rumah Ali bersebalahan.

Dikala itu PNI diketahui selaku pendukung Sukarno yang agresif.

Media Berita Harian, Pada 1966, terjalin kekisruhan dalam badan partai banteng itu, alhasil kepemimpinan berpindah ke pihak konvensional yang dibantu Soeharto. Apakah itu pemicu Soeroto diberhentikan? Agaknya.

Dalam bagian akhir novel itu Sitisoemandari menceritakan kalau sebagian tahun sehabis gejolak politik, Soeroto berusaha mencari kembali ketiga Lukisan mandat Kardinah. Ia berupaya mencari jejaknya, bagus menanyakannya ke karyawan departemen, ataupun menanya langsung pada janda Prijono. Tetapi, tidak seseorang juga yang sempat melihat Lukisan itu.

“ Hingga betapa sayangnya, jika lukisan- lukisan itu benar- benar tidak bisa diketemukan kembali,” pungkas Sitisoemandari dalam bukunya.“ Itu hendak ialah kehilangan besar untuk asal usul nasional kita.”

Sitisoemandari meninggal pada 1994 dalam umur 85 tahun. Dekat 2 tahun setelah itu Soeroto menyusulnya, meninggal dalam umur 84 tahun.

Muhammad Afif Isyarobbi, penggagas komunitas Rumah Kartini, menapaki jejak ketiga Lukisan itu di Jakarta pada 2019. Komunitasnya beranjak mengakulasi serta memelajari data- data asal usul yang berkaitan dengan seni, adat, serta peninggalan Japara. Salah satu usaha mereka merupakan mereproduksi buatan Kartini, semacam furnitur, kerajinan kusen, batik, serta Lukisan.

“ Kita mereproduksi Lukisan buatan Mbah Kartini,” ucap Afif pada National Geographic Indonesia.“ Semacam Lukisan 4 angsa buatan Mbah Kartini yang direpro dari arsip KITLV.” Dikala ini owner Lukisan aslinya tidak dikenal sebab Kartini mengirimkannya melalui badan“ Oost en West” buat dijual di Gerai Boeatan, Belanda.

kejanggalan dibalik hilangnya lukisan kartini 1964 7
Source: Indonesia Virals

Afif berjamu ke adres Myrtha di selatan Jakarta buat melacak data terpaut ketiga Lukisan itu. Sehabis itu ia meneruskan ke Galeri Nasional Republik Indonesia di Jakarta Pusat. Biarpun penelusurannya belum menanggapi di mana ketiga Lukisan itu terletak, di mari ia memperoleh data kalau“ Sehabis Gestapu beberapa barang buatan artis di[Kantor Unit Pembelajaran serta Kebudayaan] Jalur Cilacap banyak yang lenyap,” ucapnya.

“ Kerajaan Belanda mengumpulkan Lukisan Mbah Kartini,” tutur Afif. Paling tidak 2 lukisannya dipajang di Indischezaal, Paleis Noordeinde.“ Biarpun kita tidak menciptakan ciri tangannya.”

Bagi Afif, Lukisan Kartini mempunyai“ metode mewarnainya yang khas Eropa serta dilukis bukan di kain kanvas, namun di kediaman kusen yang dibingkai pahatan kusen asli.” Sepanjang ini buatan mengLukisan Kartini yang dikoleksi Paleis Noordeinde memakai alat kediaman kusen, bisa jadi Lukisan yang lenyap itu pula memakai alat yang serupa.

Dalam asal usul seni muka Indonesia, Raden Alim ditahbiskan selaku pelopor seni muka modern. Kemudian, siapa pelopor ilustrator wanita kita? Afif beranggapan,“ Agaknya Mbah Kartini merupakan ilustrator wanita yang awal di Indonesia.”

Kepala Galeri Nasional Republik Indonesia Pustanto berkata pada Media Berita Online kalau dalam amatan dalam lembaganya, beliau sering membahas kedudukan Kartini di aspek seni muka, tercantum dengan para kurator.” Kita terdapat kemauan buat melaksanakan studi mengenai kedudukan Kartini,” ucapnya,” selaku salah satu figur seni muka pribumi di masa Hindia Belanda semacam figur seni muka yang lain.”

Comments are closed.