Ad
Ad
Ad
Entertainment

Perjalanan Nostalgia Jurnalis Wanita Indonesia

Pinterest LinkedIn Tumblr

Mediaberita.id – Dalam aspek Jurnalis Perempuan Indonesia, ekspedisi untuk mencapai kesetaraan gender masih jauh. Hal ini diklaim oleh Federasi Jurnalis Bebas (AJI) setahun kemudian, pada peringatan Hari Perempuan Sedunia dalam dialog bertajuk “Menilai Kesetaraan Seks di Bumi, Apakah Sebanding?” Dalam dialog tersebut disebutkan bahwa jurnalis perempuan Indonesia hanya sekitar 30 hingga 35 persen dari total jurnalis handal yang ada.

Dari segi jumlah, jurnalis perempuan memang unggul dibandingkan laki-laki. Namun, peran mereka dalam jurnalisme tidak bisa diremehkan. Dalam memo asal, beberapa jurnalis perempuan telah membuktikan kontribusi mereka dalam perang untuk mencapai kebebasan nasional. Tidak hanya itu, ada juga mereka yang tidak takut untuk berpartisipasi dalam kritik terhadap otoritas di seluruh Sistem Saat Ini, dan berdedikasi dalam profesi mereka untuk menempati posisi penting dalam jemaat penulis.

Selanjutnya, inilah rekam jejak beberapa jurnalis perempuan di Indonesia yang perlu kita ketahui untuk memahami betapa signifikannya posisi jurnalis perempuan.

Kedudukan Wartawan Perempuan pada Masa Pra-Kemerdekaan

posisi jurnalis perempuan pra-kemerdekaan
Media Daring Indonesia

Di era penjajahan Belanda dan Jepang, berbagai pesan berita berbahasa Indonesia bermunculan dan menyebar di kalangan masyarakat. Pesan-pesan berita populer seperti Bintang Timoer, Bintang Barat, Cahaya Mentari, dan Suara Asia keluar sebagai upaya mencari kemerdekaan Indonesia. Namun, yang seringkali lepas dari pemahaman biasa adalah hadirnya berita Edit Melayu yang dibuat oleh Rohana Bersih, salah satu cabang nasional kita di Indonesia.

Di Padang pada tahun 1912, Edit Melayu adalah sebuah berita yang memuat tulisan-tulisan perempuan dan yang totalitas redaksinya dipegang oleh perempuan. Bagi Amelia Fauzia dalam bukunya yang berjudul Mengenai Perempuan Islam: Artikel dan Tindakan, gerakan pembangunan di kalangan perempuan di Indonesia terus melaju berkat gagasan Rohana dan perempuan lainnya dalam pesan berita tersebut, kata Media-Indonesia.com.

Pandangan yang patut digarisbawahi dari isi Edit Melayu, bagi Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam Siaran Pers Perempuan, adalah keberanian Rohana dalam menulis informasi politik. Atas dasar pengawasan rezim kolonial, ia menulis bagaimana perempuan yang berkuasa mengeksplorasi aksi politik dengan laki-laki melawan penjajah.

Rohana juga ikut mengawasi tulisan-tulisan di luar Sunting Melayu tentang kodrat perempuan di negara lain untuk membuktikan situasi dan kondisinya kepada seluruh warga negara Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan.

Jika kita berdialog tentang perang kemerdekaan Indonesia, kita tidak bisa mengabaikan posisi SK Trimurti dan Ani Idrus. Berkat rekam jejaknya, posisi jurnalis perempuan dalam pembangunan bangsa tak terbantahkan.

SK Trimurti, yang pada akhirnya menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja awal, adalah seorang guru dan jurnalis yang berturut-turut menggemakan catatan anti-kolonial dalam ceramah, ajaran, dan tulisannya. Karya-karyanya mendesak Trimurti untuk berulang kali dipenjarakan oleh penguasa Belanda dan Jepang.

Dalam catatan Ipong Jazimah di Harian Asal dan Adat, terlihat bahwa saat itu sangat tabu bagi perempuan untuk mendalami kegiatan politik. Namun, Trimurti bersikeras bergabung dengan Partindo pada tahun 1933 untuk menekuni politik, dan tidak lama kemudian ia juga mendirikan Aliansi Marhaeni Indonesia untuk memberikan pendidikan politik kepada perempuan lain.

Sementara itu, pandangan Ani Idrus tentang perempuan modern memiliki makna yang sama. Tulisan Ani Idrus, bagi Suriani di Harian Humanisma, memuat pernyataan bahwa perempuan tidak bisa lagi dilihat dari sisi mata.

Ani Idrus banyak membahas tentang norma dan stigma di masyarakat yang menghambat perempuan, terlihat dari posisinya sebagai salah satu jurnalis perempuan di Pewarta Deli. Mengikuti modernisasi yang berkembang dari aturan hukum Belanda, Ani Idrus menegaskan bahwa orang Indonesia, terutama perempuan, harus membiasakan diri dan tidak sepenuhnya membebaskan adat ketimuran.

Kita (perempuan) harus maju, modern, tapi modern yang tidak merusak, ” dia berkata.

Di samping ketiga julukan tersebut, ada lagi jurnalis perempuan ternama Indonesia yang telah berkontribusi dalam pemahaman bangsa, seperti Siti Soendari dan Herawati Diah.

Kiprah Wartawan Perempuan Pasca Kemerdekaan

Pasca kemerdekaan, tumbuhnya pabrik-pabrik alat yang menguntungkan di bidang jurnalistik juga dibarengi dengan bahaya terhadap kemerdekaan pers, terutama di era Sistem Terbaru.

Saat itu, SK Trimurti ada di halaman depan dan juga berparaf dokumen Petisi 50 yang kritis terhadap rezim Suharto. Sementara itu, Ani Idrus menjadi advokat untuk Ikatan Keluarga Wartawan Wanita Indonesia. Ada pula Linda Tangdiala yang berprofesi sebagai Delegasi Pembimbing Sesi Penulis yang membawahi minimal 30 jurnalis perempuan di dunia usaha Indonesia setiap harinya. Tak hanya itu, ada juga posisi Yuli Ismartono yang tak henti-hentinya meliput wilayah perang untuk Tempo sebelum berakhirnya sistem pemerintahan yang melarang majalah tersebut pada 1993.

Upaya jurnalis perempuan semasa asal Indonesia juga menjadi acuan bagi perempuan lain untuk terlibat dengan semangat juang yang sama di era reformasi. Rekam jejak jurnalis perempuan Indonesia yang telah ditorehkan sejak lama terus berlanjut dan terlihat pada sosok-sosok seperti Maria Hartiningsih, Fransisca Angkringan Susanti, dan Hermien Y. Kleden.

Tantangan Wartawan Perempuan Indonesia

Tantangan jurnalis perempuan Indonesia
Berita Online Indonesia

Saat ini, masih banyak jurnalis perempuan yang kita temui setiap hari di alat tersebut. Namun, tantangan yang mereka hadapi selalu sama. Informasi yang diperoleh Federasi Jurnalis Bebas dalam pemetaan situasi kegiatan jurnalis perempuan tahun 2012 membuktikan bahwa hak-hak yang seharusnya mereka miliki di ruang kegiatan belum terwujud.

Pendapatan jurnalis wanita didasarkan pada standar remunerasi jurnalis wanita Indonesia di setiap kota. Sementara masih banyak industri yang belum mendistribusikan pelepasan menstruasi; apalagi di beberapa daerah, industri tidak berbagi kebebasan untuk melahirkan. Di sisi lain, ruang menyusui khusus belum banyak tersedia.

Meski proporsi perempuan yang menjadi jurnalis melonjak, hanya 6 persen dari mereka yang bisa menduduki posisi besar atau posisi pengambil keputusan di ruang sidang penulis. Masalah ini tidak berubah dalam studi tahun 2018 tentang Stellarosa dan Silaban dalam Women, Journalists’ Tools and Jobs, yang menunjukkan bahwa rumor pelecehan intim terhadap jurnalis wanita sering diabaikan.

Kepala Bidang Kelamin, Anak, dan Marjinal Endah Lismartini sependapat dengan hasil penelitian tersebut. Dalam dialog yang diadakan AJI pada tahun berikutnya, dia mengatakan bahwa salah satu rekan jurnalisnya dilecehkan oleh pejabat negara.

Saat dia mendemokan berita,[dia] dikejar dan diganggu,Endah berkata, semacam diambil dari Kabarmedia.id.

Di sisi lain, Endah juga mengatakan bahwa jurnalis perempuan yang sudah berkeluarga sering dialihkan ke bagian soft news, seperti gaya hidup dan pakaian, yang ternyata politis atau legal. Pasalnya, pembagian terakhir yang disebutkan dianggap lebih “berat” bagi mereka.

[Jurnalis perempuan] dipindahkan bukan karena kekuasaan, tetapi karena mereka telah memiliki anak,” ucap Endah.

Keterangan di atas adalah profesi rumah tangga; Pekerjaan rumah yang belum berakhir selama bertahun-tahun. Untungnya, badan-badan seperti Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) telah dibentuk untuk membantu keinginan perempuan di dunia jurnalistik.

Sulit untuk mengetahui kapan perubahan besar akan terjadi. Namun, setidaknya setiap upaya membuktikan bahwa semangat perang Rohana dan teman-teman wanitanya selalu ada dan terus tumbuh semakin kuat.

Radhiyya Alat, dengan novel Murakami di tangan, Maya Deren di laptop, Velvet Underground di telinganya, dan album K-Pop di rak novel, menghabiskan waktunya untuk menulis hingga pusing.

Comments are closed.