Ad
Ad
Ad
Health

Perbedaan Vaksin DT Dan DPT Pada Bayi

Pinterest LinkedIn Tumblr

Rubrik Berita Media – Vaksin DT dan DPT mungkin sekilas terlihat mirip, namun Moms dan Dads perlu lebih berhati-hati karena kedua jenis imunitas ini berbeda. Meski hanya berupa grafik, namun orang tua tetap perlu lebih memperhatikan pendistribusian vaksin ini kepada anaknya.

Apa itu vaksin DT dan DPT?

perbedaan antara vaksin dt dan kaleng pada bayi media berita 1

Meninjau halaman Viral Harian Indonesia DT adalah singkatan dari difteri dan tetanus, sedangkan pada imunisasi DPT, P adalah pertusis atau batu dahak rejan. Mengambil dari situs resmi BPOM, vaksin DT merupakan imunisasi untuk anak usia 2 bulan hingga anak usia 7 tahun. Faktanya, vaksin DT dan DPT bersama-sama mencegah difteri pada anak di bawah 7 tahun. Namun, perbandingan antara vaksin DT dan DPT adalah bahwa vaksin DT tidak melibatkan kekebalan terhadap peradangan pertusis.

Vaksin DT (tanpa imunisasi pertusis) ada karena beberapa anak alergi terhadap bahan dalam vaksin pertusis. Pada intinya pemberian vaksin DT adalah untuk anak yang memiliki respon alergi terhadap vaksin pertusis. Sementara itu, anak di atas 7 tahun bisa mendapatkan vaksin Td sebagai sambungan kekebalan. Difteri adalah penyakit yang sangat luas dari bakteri Corynebacterium diphtheriae. Saat terkena difteri, seseorang bisa mengalami demam yang tidak terlalu besar, yakni mendekati 38 derajat Celcius.

Tak hanya itu, penderita juga bisa menghadapi kesulitan makan, pembengkakan kelenjar leher, tenggorokan jernih, sesak napas atau suara mendengkur. Penyakit ini bisa menyerang orang yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap kuman. Oleh karena itu, anak-anak, anak-anak, dan orang tua perlu mendapatkan vaksin DT dan DPT.

Mengutip Rubrik Media Berita. Jika anak Anda memiliki tanda-tanda difteri dan belum mendapatkan vaksin, segera bicarakan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Bagaimana perbandingan vaksin DT dan DPT?

Meski kedua jenis vaksin ini sama-sama mencegah difteri, orang tua perlu berhati-hati karena keduanya berbeda. Imunisasi DPT adalah vaksin untuk mencegah beberapa penyakit radang difteri, tetanus, dan batu dahak rejan (pertusis). Kedua vaksin ini memiliki manfaat yang hampir sama, mencegah penyakit radang difteri, tetanus, dan batu dahak rejan (pertusis). Tetapi pengaturan dosisnya berbeda. Imunitas DT tidak memiliki kekebalan terhadap pertusis atau batuk rejan.

Umumnya, anak yang alergi terhadap bahan vaksin pertusis mendapat imunisasi DT. Berdasarkan situs resmi BPOM, vaksin DPT mengandung sel germinal pertusis utuh dengan banyak susunan antigen di dalamnya. Kandungan antigennya yang mencapai ribuan, membuat vaksin DT dan DPT menimbulkan respon demam yang besar pada anak. Penentuan keberhasilan pencegahan penyakit difteri dengan menggunakan imunisasi adalah kisaran vaksinasi minimal 95 persen.

Berdasarkan penjelasan Kementerian Kesehatan, munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri disebabkan adanya kesenjangan imunitas tubuh di suatu wilayah. Kesenjangan atau kekosongan kekebalan ini terjadi karena kelompok rentan difteri tidak menerima atau memenuhi kekebalan.

Sedangkan menurut Rubrik Berita Online, anak-anak yang tidak merespon imunisasi sangat rentan terhadap penyakit akut yang dapat mengancam nyawanya.

Dapatkah saya menerima vaksin DT ketika saya telah menerima DPT?

Mengulas Rubrik Media Harian Jika anak tidak memiliki alergi terhadap vaksin pertusis, orang tua dapat mendistribusikan vaksin DPT karena cakupannya lebih besar. Namun, jika anak alergi terhadap vaksin pertusis, sebaiknya pilih vaksin DT dari DPT untuk kesehatan si kecil.

Untuk mengetahui apakah Anda alergi atau tidak, ibu bisa berdiskusi dengan dokter dan menanyakan kemungkinan anak alergi terhadap bahan vaksin. Dokter mungkin ingin melakukan serangkaian tes untuk menentukan apakah anak Anda memiliki respons alergi terhadap bahan vaksin pertusis yang mencegah penyakit batu rejan.

Jika durasinya tepat untuk menerima vaksin DT dan DPT

Mengutip Rubrik Berita Harian, anak membutuhkan imunisasi DT atau DPT minimal 5 kali dengan jadwal imunisasi setiap 2, 4, 6 bulan sekali. Setelah itu, dosis sambung pada usia 15-18 bulan dan dosis lain saat anak berusia 4-6 tahun.

Sedangkan imunisasi Td dilakukan anak setelah usia lebih dari 7 tahun. Umumnya imunisasi ini diberikan kepada anak usia 11 tahun. Setelah itu, imunitas koneksi diberikan lagi pada usia 19-64 tahun.

Hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua sebelum imunisasi DT

Center for Disease Control and Prevention (CDC) menganjurkan agar anak yang sakit saat program imunisasi datang untuk menunggu sampai sembuh. Namun, jika anak hanya pilek, flu, atau pilek biasa, tidak apa-apa untuk mendapatkan imunisasi saat itu juga.

Tidak hanya itu, mungkin ada anak yang ingin alergi terhadap bahan dari vaksin DT dan DPT, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak. Jika anak benar-benar serius, selalu bagikan vaksin karena tidak hanya menghindarkan anak dari bahaya peradangan, tetapi juga banyak orang di sekitarnya.

Papa dan ibu bisa berdiskusi dengan dokter jika ragu dengan keamanan dan kesesuaian vaksin DT dan DPT untuk tubuh anak. Keadaan tiap anak berbeda-beda, akibatnya tidak semua anak cocok diberikan vaksin DPT yang mengandung vaksin pertusis untuk mencegah penyakit batu dahak rejan.

Berita Media

Comments are closed.