Ad
Ad
Ad
Travel

Sejarah Pulau Komodo Jadi Spot Menarik 2021

Pinterest LinkedIn Tumblr

Media berita – Taman Nasional Pulau Komodo terdiri dari tiga pulau utama, yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar di Indonesia. Dari 603 km2 sisanya adalah Tempat Wisata Terbaik pulau-pulau kecil. Secara total, luas Taman Nasional Pulau Komodo mencapai 1.917 km2.

Pulau vulkanik yang didiami 5.700 biawak raksasa ini diapit oleh pulau Sumbawa dan Flores di antara perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT. . Tak lain, nama tempat tersebut adalah Taman Nasional Pulau Komodo. Berikut Sejarah Pulau Komodo Menurut Media Berita Online.

Bagaimana Pulau Komodo Ditemukan untuk Pertama Kalinya

Bagaimana Pulau Komodo Ditemukan untuk Pertama Kalinya

Ini adalah kisah seekor naga. Bukan sekedar legenda, tapi sebenarnya seekor naga yang masih mendiami pulau-pulau di Indonesia bagian timur dan tengah. Dunia reptil raksasa ini memiliki reputasi sebagai predator teratas di kelasnya. Sudah lama di Pulau Komodo, jajaran Kepulauan Flores, Indonesia, kisah naga raksasa muncul. Banyak pelaut yang mengatakan bahwa naga ini lebih mirip monster yang menakutkan.

Ekornya yang besar bisa menjatuhkan seekor kerbau hanya dengan sekali jentikan. Rahangnya besar dan kuat, sampai-sampai menelan babi hutan di Daily News Media dalam satu gerakan. Dan mereka percaya bahwa dari mulut komodo selalu menyemburkan api. Kisah itu beredar luas dan telah menarik perhatian banyak orang. Namun tidak ada yang berani mendekati pulau tersebut untuk membuktikannya.

Sampai awal tahun 1910-an, laporan dari sekelompok unit armada Belanda yang berbasis di Flores tentang makhluk misterius yang dianggap sebagai “naga” yang menghuni sebuah pulau kecil di Kepulauan Sunda Kecil (sekarang Kepulauan Flores, Nusa Tenggara).

Pelaut militer Belanda melaporkan bahwa makhluk itu mungkin memiliki panjang hingga tujuh meter, dengan tubuh raksasa dan mulut yang terus-menerus menyemburkan api. Letnan Steyn van Hensbroek, seorang pejabat Pemerintah Kolonial Belanda di wilayah Flores, mendengar laporan ini dan cerita-cerita seputar Pulau Komodo. Dia juga merencanakan perjalanan ke Pulau Komodo.

Tentara Mendarat Di Pulau Komodo NTT

Tentara Mendarat Di Pulau Komodo NTT

Setelah mempersenjatai diri dan membawa tim tentara terlatih, dia mendarat di pulau itu. Setelah beberapa hari di pulau itu, Hensbroek berhasil membunuh spesies aneh. Ia membawanya ke pangkalan dan mengukur panjang mangsanya sekitar 2,1 meter. Itu terlihat sangat mirip kadal. Hewan itu kemudian difoto (didokumentasikan) oleh Peter A Ouwens, Direktur Museum Zoologi dari Harian Berita Online dan Kebun Raya Bogor, Jawa. Ini adalah dokumentasi pertama tentang naga.

Ouwens pun dibuat penasaran dengan temuan hewan aneh ini. Dia kemudian merekrut seorang pemburu pintar untuk menangkap spesimen untuknya. Para pemburu berhasil membunuh dua ekor komodo berukuran 3,1 meter dan 3,35 meter, plus menangkap dua ekor anakan yang masing-masing berukuran di bawah satu meter.

Berdasarkan hasil tangkapan pemburu, Ouwens melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa komodo bukanlah penyembur api, melainkan sejenis biawak di kelas reptil. Hasil penelitian ini kemudian dimuat dalam sebuah surat kabar terbitan tahun 1912. Dalam pemberitaan tersebut, Ouwens mengusulkan nama kadal raksasa Varanus komodoensis sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo).

Sadar akan pentingnya komodo sebagai spesies yang terancam punah, pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan untuk melindungi Komodo dan Pulau Komodo pada tahun 1915. Ini menjadi kawasan sebagai kawasan konservasi komodo. Menemukan naga sebagai legenda naga hidup, ia penasaran dengan dunia internasional. Beberapa ekspedisi ilmiah dari berbagai negara bergantian melakukan penelitian di Media Online News di Pulau Komodo.

Nama Pulau Komodo diberikan oleh Belanda pada masa penjajahan

Pada tahun 1910 Belanda menamai pulau di sisi selatan provinsi Nusa Tenggara Timur dengan julukan Pulau Komodo. Cerita dimulai dengan Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang keberadaan hewan besar menyerupai naga di pulau itu. Steyn kemudian membunuh seekor komodo dan membawa dokumentasinya ke Museum dan Kebun Raya Bogor untuk dipelajari.

Pada tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan sebagai finalis “Tujuh Keajaiban Alam Baru” yang diumumkan pada tahun 2010 melalui voting online di www.N7W.com. Pada 11 November 2011, New 7 Wonders mengumumkan pemenang sementara, dan Taman Nasional Komodo dinobatkan sebagai pemenang bersama dengan Daily Media News, Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Lembah Sungai Puerto Princesa, dan Gunung Meja. Taman Nasional Komodo mendapat suara terbanyak.

Sejarah Masyarakat Purba Pulau Komodo

Sejarah Masyarakat Purba Pulau Komodo

Di sebelah barat Pulau Flores terdapat pulau langka yaitu Pulau Komodo, selain Pulau Rinca di sebelah timur terletak di Selat Sape, antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Perjalanan ke Pulau Sumbawa dilakukan dengan perahu melalui pulau-pulau kecil seperti Girilawa, Lulu, Bendera dan Gilibanta, yang memakan waktu satu hari perjalanan. Sedangkan pelayaran ke Labuhan Bajo di Flores memakan waktu setengah hari perjalanan, melewati pulau Messah.

Penduduk Pulau Komodo dikenal sebagai Ata Modo dan pulau yang mereka sebut Tana Modo, dengan sejumlah kecil desa. Menurut Zollinger, sekitar tahun 1850, masyarakat yang tinggal di Pulau Komodo telah mengungsi ke Bima karena serangan bajak laut. Berdasarkan laporan Residen Belanda di Kupang, pelayaran Gronovius ke Pulau Komodo dan Pulau Sape di Sumbawa timur, pada tahun 1846, merupakan Tempat Wisata Terbaik di Papua yang digunakan oleh para perompak untuk menyerang desa-desa di pesisir utara Sumba dan menangkap mereka. penduduk untuk diperdagangkan.

Sebagian besar kapal bajak laut berasal dari Bugis dan Makassar. Bahkan dalam salah satu legenda Komodo, bajak laut dikisahkan dari negeri bajak laut, Butung (Buton) di Sulawesi Tenggara. Laporan pada abad ke-19 menyebutkan Pulau Komodo sebagai tempat pembuangan bagi mereka yang terlibat dalam kejahatan.

Mereka adalah orang-orang yang menjadi budak karena hutang dan hukuman di bawah pengawasan perwakilan Kesultanan Bima. Pada abad ke-19, kapal-kapal dari Manggarai, wilayah kekuasaan Sultan Bima, yang setiap tahun ingin mengirimkan upeti, singgah di bandara di Pulau Komodo. Upeti yang diberikan terdiri dari hasil bumi, budak, lilin lebah, emas, palem dan asam.

Itulah sejarah panjang Pulau Komodo. Hingga saat ini, destinasi wisata terbaru Pulau Komodo semakin populer. Apalagi Labuan Bajo telah dibuka sebagai tempat wisata. Semakin banyak orang ingin pergi ke sana untuk melihat makhluk yang disebut naga Indonesia ini.

Deskripsi Pulau Komodo Saat Ini

Deskripsi Pulau Komodo Saat Ini

Komodo, sebuah pulau di Kepulauan Sunda Kecil, provinsi (provinsi) Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau yang memiliki luas sekitar 200 mil persegi (520 km persegi) ini terletak di Selat Sape antara pulau Flores dan Sumbawa. Ini agak berbukit, mencapai ketinggian maksimum 2.700 kaki (825 meter). Satu-satunya desa, Komodo, di sebuah teluk di pantai timur, terdiri dari beberapa gubuk bambu. Pulau ini terkenal sebagai rumah bagi biawak raksasa, Varanus komodoensis, yang sering disebut sebagai tempat rekreasi komodo.

Pulau-pulau vulkanik ini dihuni oleh sekitar 5.700 kadal raksasa, yang penampilan dan perilaku agresifnya membuat mereka mendapat julukan ‘komodo’. Mereka tidak ada di tempat lain di dunia dan sangat menarik bagi para ilmuwan yang mempelajari teori evolusi. Lereng bukit terjal di sabana kering dan kantong vegetasi hijau berduri berdiri sangat kontras dengan pantai pasir putih cemerlang dan air biru bergelombang di atas karang.

Sumber: https://www.mediaberita.id

Comments are closed.